JAKARTA – Travel blogger Marischka Prudence berkesempatan mengunjungi Afghanistan. Dia bersyukur karena kondisi Indonesia ternyata lebih baik.
Sebelum ‘terpeleset’ menjadi pencinta traveling, Marischka Prudence terlebih dahulu menjadi reporter. Profesinya tersebut kemudian memberikan kesempatan Pru untuk mengunjungi negara berkonflik, Afghanistan. Kunjungannya ke negara tersebut membuat Pru merasa lebih bersyukur menjadi warga negara Indonesia.
“Paspor gue yang Indonesia ternyata lebih gampang buat gue pergi ke mana-mana. Sementara di Afghanistan, kalau mereka bukan bussinessman pasti susah," kata perempuan yang akrab disapa Pru ini kepada Okezone di Jakarta, belum lama ini.
Kesempatan langka itu tidak dilewatkannya begitu saja. Selain bekerja, Pru juga mengunjungi tempat wisata di Afghanistan. Selama dua pekan, Pru mengunjungi dua tempat indah, yakni Danau Qargha dan Istana Darul Aman.Menurut Pru, keindahan Danau Qargha mulai terkikis. Bahkan, danau tersebut kini kering sehingga banyak bebatuan yang terlihat. Selain Danau Qargha, tujuan lainnya adalah Istana Darul Aman. Istana yang sudah berdiri dari zaman sebelum perang dimulai kini kondisinya memprihatinkan dan terlihat sudah hancur.
Keadaan Afghanistan yang tidak kondusif sangat disayangkan Pru. Karena menurutnya, negara tersebut menyimpan cukup banyak potensi wisata yang dapat menarik wisatawan. Selain tempat wisata, rumah-rumah penduduk yang berbentuk kotak terlihat sangat eksotis dan dapat dijadikan tujuan wisata bagi para turis.
Mengenal Potensi dan Tempat Wisata Indah Afghanistan
negara Afghanistan yang unik dan indah
Negara ini terletak
di jantung Benua Asia dan sama sekali tidak memiliki akses ke laut. Wilayahnya
terbentang di antara Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, China, Pakistan, dan
Iran. Lebih dari separuh wilayahnya berupa gunung yang membentuk relief tinggi
dan sangat berlekuk-lekuk. Puncak tertinggi dicapai oleh Tirich Mir, yaitu
7.690 meter! Kekhasan bentuk geografis ini mengakibatkan terjadinya kesulitan
komunikasi dan menghambat pergerakan penduduk. Terdapat satu zona subur yang
membentang di sisi utara. Namun, secara keseluruhan wilayah tersebut berupa
permukaan yang naik turun. Iklimnya yang kering menjadikan wilayah ini tidak
produktif.
Padahal, pendapatan utama negara ini berasal dari pertanian. Selain tanaman pangan (gandum, gandum hitam, jagung, buah-buahan), tanaman opium yang menghidupi lebih dari 10% penduduk, juga menjadi pemasukan besar bagi negara. Bahkan, Afganistan sendiri menjadi penghasil 90% opium di seluruh dunia! Setelah melalui masa peperangan selama lebih dari dua puluh tahun, penduduk Afganistan mengalami kesulitan hidup dan masalah sanitasi. Dengan masih bergantung pada bantuan internasional, Afganistan kini berusaha membangun kembali stabilitas politik dan mengembangkan perekonomian.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar